Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernahkah kamu minum antibiotik saat flu parah, tapi kok nggak sembuh-sembuh juga? Virus flunya malah menertawakan pil itu.
Ternyata, flu itu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Ini perbedaan yang sangat penting.
Apakah virus itu hidup? Di luar tubuh, dia hanyalah benda mati seperti zombi. Tapi begitu masuk ke dalam tubuh kita, dia seolah hidup dan aktif.
Bayangkan virus itu seperti sebuah flashdisk. Cuma ada dua bagian: casing luar pelindung, dan data digital di dalamnya.
Dalam biologi, casing luar itu disebut kapsid atau selubung protein. Sedangkan data digitalnya adalah materi genetik, hanya DNA atau RNA saja.
Contoh nyatanya adalah Bakteriofag, yaitu virus pemakan bakteri. Bentuknya persis seperti robot laba-laba.
Kalau di-zoom, robot ini punya kepala berisi DNA, bagian leher, dan ekor penancap yang mirip jarum suntik.
Bentuk lain adalah virus Corona. Dia punya amplop lemak dan rambut berduri, ibarat kunci palsu untuk membobol sel paru-paru kita.
Karena virus cuma flashdisk, dia tidak bisa copy-paste sendiri. Dia butuh menancap ke komputer, yakni sel inang, untuk berlipat ganda.
Mari lihat Daur Litik. Tahap pertama, adsorpsi. Kaki robot mendarat pas di permukaan bakteri.
Tahap kedua, penetrasi. Jarum menancap lalu menyemprotkan DNA ke dalam bakteri.
Tahap ketiga, replikasi. DNA virus meretas pabrik bakteri, memaksanya mencetak ribuan bagian virus baru.
Tahap keempat, perakitan. Kepala dan ekor disambung menjadi ribuan virus utuh di dalam perut bakteri.
Terakhir, lisis. Bakteri meledak hancur, dan ribuan virus baru keluar mencari mangsa.
Tapi kalau bakterinya sedang kuat, virus memilih Daur Lisogenik, menyamar diam-diam layaknya ninja.
Awalnya sama, terjadi adsorpsi dan penetrasi, DNA disuntikkan ke dalam bakteri.
Lalu tahap penggabungan. DNA virus nyelip ke DNA bakteri, membentuk Profag. Bakteri tidak sadar sudah diretas.
Saat bakteri melakukan pembelahan diri, DNA virus secara otomatis ikut tergandakan ke anak bakteri.
Jika lingkungan memburuk, Profag bangun dan langsung memicu mode Litik yang menghancurkan inang.
Awas jebakan UTBK! Antibiotik bekerja merusak dinding sel. Tapi virus itu aseluler, tidak punya sel, jadi antibiotik tidak berguna melawannya.
Satu-satunya yang bisa melawan virus adalah sistem antibodi kita, yang bisa dilatih menggunakan vaksin.
Ingat tiga ciri utama virus: Aseluler, hanya punya DNA atau RNA, dan dia parasit obligat.
Siklus reproduksinya ada dua: Litik yang barbar menghancurkan, dan Lisogenik yang menyusup jadi ninja.
Jadi pantas saja flu nggak mempan pakai antibiotik. Obat itu untuk sel hidup, bukan untuk merusak flashdisk zombi seperti virus.