Persiapan PTN
CASN
Mahasiswa
Sekolah
Halo teman-teman! Hari ini kita akan mempelajari materi penting untuk PPU, yaitu Ejaan dan Tata Tulis UTBK, khususnya penggunaan huruf Kapital, Miring, dan Tebal.
Perhatikan perbedaannya. Kalimat pertama, dia sedang membaca majalah bobo di sungai musi, ditulis dengan huruf kecil semua dan itu salah. Seharusnya: Dia sedang membaca majalah Bobo di Sungai Musi, dengan kapital dan miring yang tepat.
Analoginya seperti rambu lalu lintas. Tanda STOP memberi perintah jelas. Begitu juga huruf kapital dan miring, mereka adalah rambu dalam teks yang memberi tahu pembaca mana bagian yang penting atau bersifat khusus.
Dasar yang harus kita pahami adalah satuan bahasa. Mulai dari satu, huruf seperti a besar, b kecil, atau c. Dua, kata seperti buku atau lari. Dan tiga, kalimat utuh seperti Ibu memasak.
Ada mitos versus fakta di PUEBI. Mitosnya, semua nama geografi harus kapital. Faktanya, kapital hanya jika diikuti nama diri. Contohnya, mandi di sungai ditulis kecil, sedangkan Sungai Nil ditulis kapital.
Berikut aturan huruf kapital: digunakan pada awal kalimat seperti Dia pergi, nama orang Budi Utomo, nama agama atau Tuhan seperti Islam dan Allah, gelar yang diikuti nama seperti Sultan Hasanuddin, serta nama bangsa atau bahasa seperti Inggris.
Mengapa ada aturan ini? Logikanya adalah untuk membedakan hal yang bersifat umum dengan yang bersifat spesifik. Ingat, hal yang spesifik harus ditulis dengan huruf kapital.
Sekarang aturan huruf miring. Pertama untuk judul buku, majalah, atau koran. Kedua untuk istilah asing atau daerah. Ketiga untuk menegaskan kata atau bagian kata, contohnya pada kalimat: Kita harus, dengan kata harus yang dimiringkan.
Lalu aturan huruf tebal. Digunakan untuk menegaskan bagian yang sudah dimiringkan, serta untuk menuliskan judul bab atau subbab dalam sebuah karya tulis.
Mari lihat alur penentuan kapital geografi. Apakah itu nama tempat? Jika ya, apakah diikuti nama diri? Jika ya, maka tulis kapital. Namun jika tidak diikuti nama diri, maka cukup tulis dengan huruf kecil.
Contoh Soal satu: Penulisan kapital yang benar adalah C, Ibu pergi ke Selat Sunda, karena nama geografi diikuti nama diri. Pilihan B salah karena kacang bogor adalah nama jenis buah yang harus ditulis kecil.
Contoh Soal dua: Kalimat dengan huruf miring yang tepat adalah D. Nama ilmiah buah manggis adalah Carcinia mangostana. Ingat, nama ilmiah atau bahasa asing harus selalu ditulis miring.
Contoh Soal tiga: Manakah penulisan yang salah? Jawabannya adalah B, menyeberangi Selat. Kata Selat di sini harusnya huruf kecil karena tidak diikuti nama diri spesifiknya, berbeda dengan Gunung Merapi.
Contoh Soal empat: Pilih penulisan gelar yang benar, yaitu D, Kakak bertemu Haji Agus. Aturannya, gelar ditulis kapital jika diikuti nama diri, sedangkan kata nabi atau haji tanpa nama diri ditulis kecil.
Contoh Soal lima: Kata mana yang harus miring? Jawabannya B, Kick-off, karena merupakan istilah asing murni yang belum diserap. Sedangkan Unduh, Bus, Standardisasi, dan Analisis sudah diserap ke bahasa Indonesia.
Penerapan aturan ini sangat nyata, seperti pada penulisan nama di ijazah, nama latin di artikel ilmiah, surat resmi pemerintahan, hingga penulisan judul buku dalam karya sastra.
Inilah jurus kilat UTBK. Satu, nama jenis seperti jeruk bali ditulis kecil. Dua, nama asing seperti lifestyle ditulis miring. Dan tiga, nama geografi ditambah nama diri wajib ditulis kapital.
Hindari kesalahan fatal ini! Jangan pakai kapital setelah titik dua kecuali nama diri. Jangan pakai miring untuk kutipan langsung. Dan jangan mengkapitalkan semua kata di judul jika itu adalah konjungsi.
Kesimpulannya: Kapital untuk nama diri dan awal kalimat. Miring untuk judul dan istilah asing. Tebal untuk penegasan dan judul bab. Selalu cek apakah kata tersebut spesifik atau umum.
Semangat belajar persiapan UTBK! Kuasai terus aturan PUEBI ini dan raih skor maksimal di ujian nanti. Sampai jumpa!