Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Bayangkan kelasmu ganti ketua kelas sampai tujuh kali dalam satu semester karena pada saling debat. Kira-kira program kelasnya bakal jalan nggak? Nah, inilah yang terjadi di era Demokrasi Liberal, dari tahun sembilan belas lima puluh sampai lima puluh sembilan.
Kita mulai dari kabinet awal. Natsir bikin Program Benteng untuk bantu pengusaha lokal. Tapi hati-hati, kabinet Sukiman jatuh karena terima bantuan senjata Amerika, yang melanggar asas bebas aktif kita.
Lalu ada kabinet Wilopo yang kena krisis internal. Puncaknya peristiwa tujuh belas Oktober lima puluh dua, tank militer sampai arahkan meriam ke Istana minta parlemen dibubarkan.
Di tengah kekacauan, kabinet Ali Sastroamidjojo yang pertama mencetak prestasi diplomasi. Mereka sukses gelar Konferensi Asia Afrika tahun lima puluh lima di Bandung.
Prestasi demokrasi berlanjut di kabinet Burhanuddin Harahap. Mereka sukses menggelar Pemilu pertama tahun lima puluh lima yang diakui sangat demokratis.
Tapi pasca-pemilu, konflik justru memanas di era Ali kedua. Muncul pemberontakan PRRI Permesta karena daerah merasa dianaktirikan oleh pusat.
Terakhir, kabinet Djuanda atau Zaken Kabinet. Ini kabinet menteri ahli, bukan politisi. Prestasi terbesarnya Deklarasi Djuanda yang menyatukan laut antar pulau, jadi luas negara kita bertambah.
Jebakan UTBK nih! Jangan mengira semua tujuh kabinet ini seratus persen gagal. Faktanya, Pemilu lima puluh lima, KAA, dan Deklarasi Djuanda adalah prestasi besar yang sering keluar di soal.
Rangkumannya, sama seperti kelas yang ganti ketua tujuh kali tadi, program negara banyak yang mandek. Akhirnya, Soekarno menyudahi drama ini dengan mengeluarkan Dekrit Presiden lima puluh sembilan.