Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernah merasa uang sakumu makin cepat habis buat jajan dan beli kuota, padahal kata penyiar berita inflasi ekonomi negara sedang stabil? Coba bandingkan harga semangkuk bakso tahun dua ribu sepuluh dengan sekarang.
Mari kita lihat data sesungguhnya lewat grafik ini. Titik awal grafik berada di tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh, saat harga barang masih relatif murah.
Perhatikan garis biru ini. Garis ini mewakili barang yang rutin dibeli masyarakat, seperti beras atau baju. Garis yang meroket ini punya nama resmi, yaitu CPI.
Lalu ada garis merah, yang mengukur barang industri makro seperti aspal atau mesin pabrik. Harganya naik lebih lambat, dan istilah resminya adalah GDP Deflator.
Sekarang bandingkan langsung keduanya. Lihat jarak vertikal di ujung grafik tahun dua ribu lima belas ini. Gapnya makin melebar secara signifikan!
Hati-hati dengan jebakan ini. Jangan mengira satu angka inflasi pukul rata lima persen itu berlaku untuk semua. Nyatanya, harga jajan naik sepuluh persen, tapi mesin cuma dua persen.
Kesimpulan bacaan grafiknya jelas. Dompet masyarakat makin tipis karena beban hidup konsumen terbukti naik jauh lebih berat daripada angka rata-rata ekonomi.
Jadi wajar saja uang sakumu cepat habis. Garis biru kebutuhan sehari-harimu berlari jauh meninggalkan garis merah rata-rata nasional!