Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Fitur
Pernahkah kamu berpikir, kenapa polisi bisa langsung menilangmu karena tidak bawa SIM, tapi sama sekali tidak bisa menangkapmu karena kamu membentak orang tuamu? Ini membedakan norma sosial dengan hukum: hukum wajib dibuat negara dan punya sanksi paksa.
Contoh: menerobos lampu merah adalah pelanggaran, yang otomatis memicu denda tilang sebagai sanksi. Logika dasar hukum selalu sebab-akibat seperti ini.
Awas miskonsepsi! Sering dikira semua aturan di masyarakat, seperti aturan adat tanpa pengakuan negara, adalah hukum. Salah! Tanpa aparat negara yang bisa memaksa sanksi, itu sekadar norma biasa.
Bayangkan rambu lalu lintas: ia memberi tahu siapa yang jalan duluan demi kepastian, mencegah tabrakan untuk kemanfaatan, dan menilang yang menyerobot demi keadilan. Inilah tiga tujuan utama hukum menurut Gustav Radbruch.
Mengapa kita dilarang berjudi tapi di negara lain boleh? Karena sumber materiil kita, seperti nilai agama dan Pancasila, berbeda. Bentuk nyatanya dituangkan ke dalam sumber formil seperti Undang-Undang.
Contoh lain: Jika ada kasus sengketa tanah adat tapi tidak ada di Undang-Undang, hakim akan memakai putusan Mahkamah Agung terdahulu. Ini disebut Yurisprudensi, salah satu sumber hukum formil.
Misal Budi berhutang bayar sewa kos ke Siti. Ini masalah dua individu sejajar. Negara hanya jadi wasit di pengadilan. Ini adalah Hukum Privat, contohnya perdata.
Bandingkan jika Budi merampok Siti. Negara langsung turun tangan menangkap Budi demi ketertiban umum. Lihat tabel ini: privat untuk individu, publik untuk negara. Secara matematis, hukum pidana adalah himpunan bagian dari hukum publik.
Kesimpulannya, hukum adalah aturan bersanksi dengan tujuan pasti, bersumber dari nilai masyarakat dan negara, serta terbagi menjadi publik dan privat. Terjawab sudah kenapa membentak orang tua bukan ranah penegakan hukum polisi!