Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernahkah kamu naik kereta api sambil minum es teh manis dan sadar bahwa dua hal itu adalah sisa ambisi penjajah meraup triliunan rupiah dari tanah Jawa? Semuanya bermula saat Daendels memaksa rakyat membangun jalan seribu kilometer dari Anyer ke Panarukan.
Lalu datanglah Raffles dari Inggris. Ia mengubah kerja fisik menjadi beban pajak lewat sistem sewa tanah. Petani wajib menyerahkan hasil panen atau uang, seolah-olah mereka cuma menyewa tanah dari Raja Inggris.
Belanda kembali dan menerapkan Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Petani dipaksa memakai dua puluh persen lahan mereka khusus untuk menanam kopi dan tebu demi diekspor ke Eropa.
Akibatnya fatal. Kelaparan mengerikan melanda banyak daerah. Bencana kemanusiaan ini memicu kritik tajam, salah satunya lewat novel Max Havelaar yang memprotes kekejaman Tanam Paksa.
Tapi tunggu, ada wilayah otonom bernama Vorstenlanden atau Tanah Raja. Di Surakarta dan Yogyakarta, tanah tetap milik Kesultanan, bukan pemerintah kolonial.
Penguasa lokal pun ikut berbisnis. Mangkunegara Keempat membangun Pabrik Gula Colomadu pada tahun seribu delapan ratus enam puluh satu untuk menyaingi keuntungan Belanda.
Untuk mengirim karung-karung gula dari pabrik ke pelabuhan, dibangunlah rel kereta api pertama oleh perusahaan NISM, menghubungkan Semarang, Solo, dan Yogyakarta.
Hati-hati, jangan mengira rel kereta ini dibangun untuk fasilitas rakyat. Itu murni untuk efisiensi mengangkut hasil bumi.
Jadi, jalan Daendels, pajak Raffles, Tanam Paksa, pabrik gula Mangkunegaran, hingga rel NISM adalah satu rantai sejarah eksploitasi dan perlawanan ekonomi yang panjang.