Persiapan PTN
CASN
Mahasiswa
Sekolah
Halo teman-teman! Hari ini kita akan membedah topik penting dalam PPU, yaitu Kalimat Tidak Logis dan bagaimana cara tepat untuk menentukannya.
Kelogisan bergantung pada dua hal: Logika Berpikir dan Struktur Kalimat. Jika keduanya tidak nyambung, akan terjadi mata rantai yang putus dalam komunikasi kita.
Coba perhatikan analogi memasak ini. Kalimat 'Saya sedang memasak ibu' tentu salah dan tidak masuk akal. Kalimat yang benar adalah 'Saya sedang memasak untuk ibu'.
Dasar utamanya adalah pola es, pe, o, ka. Es untuk Subjek atau pelaku, pe untuk Predikat atau tindakan, o untuk Objek penderita, dan ka untuk Keterangan waktu atau tempat.
Hati-hati, ada salah kaprah! Jangan mengira asal bisa dimengerti berarti kalimat itu logis. Padahal, logis berarti maknanya harus masuk akal secara struktur bahasa.
Secara definisi, kelogisan adalah ide kalimat yang dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai ejaan. Ingat rumusnya: Makna ditambah Struktur sama dengan Logis.
Mengapa kalimat bisa menjadi tidak logis? Pertama, subjek tidak jelas. Kedua, predikat tidak masuk akal. Ketiga, hubungan sebab-akibat rancu. Dan keempat, perbandingan yang tidak setara.
Gunakan Uji Pelaku dan Tindakan. Tanyakan: Siapa atau apa yang melakukan apa? Pastikan gabungan es dan pe menghasilkan tindakan yang masuk akal.
Pahami Logika Aktif versus Pasif. Aktif berarti pelaku melakukan tindakan, sedangkan pasif berarti sasaran menerima tindakan. Waspadai penempatan kata depan yang salah!
Lihat visualisasi ini. Ada gambar jam dan kursi. Jika sebuah kalimat membuat benda mati seolah-olah bisa bicara, tentu itu adalah pertanyaan besar bagi logika kita.
Contoh satu, waktu dan tempat. Kalimat 'Waktu dan tempat kami persilakan' itu salah karena waktu tidak bisa dipersilakan. Yang benar adalah 'Bapak Kepala Sekolah kami persilakan'.
Contoh dua, preposisi yang mengganggu. Kalimat 'Dalam pembangunan jembatan itu memerlukan biaya besar' adalah salah. Hapus kata 'Dalam' agar pembangunan jembatan menjadi subjek yang jelas.
Contoh tiga, logika tindakan. Kalimat 'Mayat itu dilemparkan ke sungai yang mana dia ditemukan' itu tidak logis. Benarnya: 'Mayat yang ditemukan itu dilemparkan ke sungai'.
Contoh empat, perbandingan setara. 'Harga beras di Jawa lebih murah daripada luar Jawa' itu salah. Harusnya dibandingkan dengan harganya lagi, menjadi 'daripada di luar Jawa'.
Contoh lima, ambivalensi predikat. Kalimat 'Kepada para pemenang lomba kami persilakan' itu salah. Kata 'Kepada' membuat subjeknya hilang, jadi sebaiknya langsung sebutkan subjeknya saja.
Penerapannya luas! Mulai dari menyusun berita agar tidak hoaks, membangun argumen debat yang kuat, hingga menemukan kesalahan teks panjang saat ujian UTBK nanti.
Ini jurus cepatnya! Cukup tanyakan: Apakah subjeknya masuk akal melakukan predikatnya? Jika jawabannya tidak, maka kalimat tersebut dipastikan tidak logis.
Siswa sering terkecoh karena kalimat terdengar lumrah, lupa mengecek fungsi subjek, atau tidak memperhatikan preposisi di awal kalimat yang bisa merusak struktur.
Kesimpulannya: Kalimat logis adalah Makna ditambah Struktur. Perhatikan sinkronisasi es dan pe, waspada preposisi seperti Dalam, Bagi, atau Untuk, dan selalu gunakan uji logika.
Teruslah berlatih soal-soal UTBK agar kemampuan analisis kalian semakin tajam. Sampai jumpa di video selanjutnya, teman-teman!
Mari kita tutup dengan semangat belajar yang tinggi. Selamat belajar dan semoga sukses!