Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Fitur
Pernah mikir kenapa balita suka nangis guling-guling kalau mainannya diambil, tapi orang dewasa jarang begitu? Jawabannya ada di psikologi perkembangan, karena kita terus berubah sepanjang hayat.
Perkembangan itu multidimensional, terbagi tiga ranah yang saling interaksi. Fisik saat bayi merangkak, kognitif waktu mulai meniru kata-kata, dan sosioemosional saat dia tersenyum ke ibunya.
Nah, khusus ranah kognitif, gimana cara ngukurnya? Bayangkan ada anak usia nyata sepuluh tahun, tapi otaknya bisa memecahkan masalah anak usia dua belas tahun. Ini disebut usia mental.
Dulu, ini dihitung pakai rumus IQ. Usia mental dibagi usia kronologis, dikali seratus. Berarti IQ anak tadi, dua belas dibagi sepuluh, dikali seratus, hasilnya seratus dua puluh.
Satu jebakan penting: jangan samakan pertumbuhan dan perkembangan! Tambah tinggi itu cuma pertumbuhan fisik. Tapi bisa mengendalikan amarah? Itulah perkembangan kualitatif yang sebenarnya.
Gimana anak belajar? Piaget bilang mereka pakai skema. Anak lihat kucing dibilang anjing, itu asimilasi. Saat tahu bedanya lalu bikin kategori baru, itu akomodasi.
Piaget membagi empat tahap. Pertama, bayi main cilukba karena baru paham permanensi objek. Kedua, anak praoperasional sering tertipu gelas tinggi dikira isinya lebih banyak karena kurang prinsip konservasi.
Ketiga, anak SD masuk operasional konkret, tahu logika nyata seperti volume air tetap sama. Keempat, remaja di tahap formal sudah bisa berdebat soal hal abstrak dan hipotetis.
Coba analisis: kalau Budi umur lima tahun memilih minta mainannya baik-baik daripada memukul, ini masuk ranah apa? Yap, sosioemosional, karena dia sedang meregulasi emosinya.
Jadi, balita nangis tadi wajar karena sosioemosional dan kognitifnya masih tahap awal. Kita ini terus beradaptasi dan berkembang di sepanjang hayat!