Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernah kepikiran kenapa buruh pabrik sering demo menuntut naik gaji, sementara anak agensi santai saja lembur sampai pagi demi passion? Tiga bapak sosiologi dunia punya jawabannya.
Bayangkan apel jatuh pasti ke bawah karena gravitasi. Auguste Comte bilang, perilaku masyarakat juga punya hukum pasti yang bisa diukur layaknya ilmu fisika.
Comte mengenalkan Positivisme, dari kata positif yang artinya nyata atau empiris. Intinya, masyarakat berkembang dari percaya hal mistis menuju era sains dan logika.
Kembali ke buruh pabrik. Bayangkan bos yang punya pabrik berhadapan dengan buruh yang cuma punya tenaga. Bos ingin untung maksimal, buruh ingin gaji tinggi. Pasti bentrok!
Karl Marx menyebut ini Teori Konflik Kelas. Kata kuncinya, Borjuis si pemilik modal menindas Proletar si kelas pekerja.
Lalu kenapa anak agensi rela lembur bareng? Karena mereka merasa punya ikatan batin, seperti organ tubuh yang fungsinya beda tapi saling membutuhkan agar tetap hidup.
Emile Durkheim menyebut ini Solidaritas Sosial. Ada solidaritas Mekanik di desa yang seragam, dan Organik di kota modern di mana beda profesi tapi saling bergantung.
Awas jebakan! Banyak yang mengira teori Marx cuma soal komunisme itu jahat. Padahal, kacamata Marx sekadar melihat bahwa di setiap masyarakat selalu ada perebutan sumber daya.
Bagaimana kalau ikatan masyarakat tiba-tiba hilang? Durkheim mengenalkan Anomie, A artinya tanpa, Nomos berarti norma. Contohnya orang mendadak kaya hasil lotre malah bingung dan stres.
Kesimpulannya, buruh pabrik demo karena Konflik Kelas dari Marx, anak agensi bertahan karena Solidaritas Organik dari Durkheim, dan semua ini diteliti logis lewat Positivisme Comte.