Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernahkah kamu mikir, kenapa miliarder yang rajin sedekah miliaran tiap hari, tetap berdosa besar kalau nggak bayar beras dua koma lima kilogram saat Idul Fitri? Karena sedekah itu sunnah, sedangkan zakat itu wajib.
Ibarat pohon yang dipangkas daunnya justru tumbuh lebat. Secara bahasa dalam Fathul Qarib, zakat berarti tumbuh atau suci. Secara syariat, zakat adalah kadar harta tertentu yang wajib diberikan kepada golongan tertentu.
Kapan wajib bayar zakat? Bayangkan kamu punya emas delapan puluh lima gram dan disimpan utuh selama setahun. Syarat wajibnya: Islam, merdeka, milik sempurna, mencapai Nisab atau batas minimal, dan Haul yaitu satu tahun.
Awas jebakan! Kalau bayi baru lahir mewarisi satu miliar, wajib zakat nggak? Ya! Menurut Fathul Mu'in, zakat itu terkait hartanya, bukan baligh si pemilik. Wali si bayilah yang wajib mengeluarkannya.
Zakat itu ada dua macam. Zakat Fitrah, seperti beras dua koma lima kilogram untuk mensucikan badan. Dan Zakat Maal, seperti dua setengah persen dari untung dagang untuk mensucikan harta, termasuk emas, perak, dan pertanian.
Nah, siapa yang berhak menerima? Zakat itu untuk tetangga yang kelaparan, bukan untuk bangun jalan raya. Ada delapan asnaf atau golongan yang mutlak berhak menerimanya berdasarkan surat At-Taubah ayat enam puluh.
Banyak yang salah paham soal Fi Sabilillah. Boleh nggak zakat buat bangun masjid? Menurut Fathul Qarib, Fi Sabilillah itu khusus untuk pasukan perang sukarela, bukan untuk infrastruktur umum atau masjid.
Kenapa zakat diwajibkan? Daripada uang ditumpuk di bawah kasur, lebih baik mengalir ke pasar lewat orang miskin yang belanja. Hikmahnya: membersihkan sifat kikir dan memutar roda ekonomi.
Intinya, sedekah miliaran itu hebat, tapi zakat adalah Rukun Islam. Zakat adalah hak orang miskin yang menumpang di harta kita, yang wajib dikembalikan agar harta kita suci dan berkah.