Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernah dengar ada desa yang warganya bisa berpenghasilan miliaran rupiah per tahun cuma dari kolam mata air, padahal banyak yang mengira desa itu pasti tempat yang miskin dan tertinggal?
Kata desa berasal dari bahasa Sanskerta 'dhesi' yang artinya tanah lahir. Ciri khasnya, warganya punya ikatan kekerabatan kuat dan homogen, kayak selalu kumpul gotong royong kalau ada hajatan.
Nah, desa itu punya dua modal utama. Pertama, potensi fisik seperti sawah dan sapi. Kedua, potensi non-fisik, yaitu warga yang bekerja sama mengelola aset tadi.
Kalau dilihat dari atas, tata letak desa itu beragam. Ada yang rumahnya berbaris rapi mengikuti aliran sungai, ini namanya pola linier. Ada juga yang melingkari gunung api, disebut pola radial.
Secara kemajuan, desa berkembang dari desa adat yang terisolir atau swadaya, pelan-pelan maju jadi swakarya, sampai akhirnya jadi desa swasembada mandiri yang sudah pakai traktor dan internet.
Tapi, jalannya nggak selalu mulus. Sering ada masalah seperti sawah yang disemen jadi perumahan atau konversi lahan, dan pemuda yang kabur ke kota, bikin desa krisis SDM.
Banyak yang mikir, 'Membangun desa itu tugas pemerintah pusat aja.' Salah besar! Pengelolaan desa masa kini harus partisipatif oleh warga, transparan, dan fokus mengejar target SDGs Desa.
Jadi intinya, kalau potensi fisik dan semangat gotong royong warganya dikelola dengan transparan, desa mana pun bisa berevolusi dari tertinggal jadi mandiri, kayak desa miliaran rupiah tadi!