Tanda Baca
Halo, Pejuang PTN. Selamat datang di bab Tanda Baca. Kalau bab imbuhan menguji bentuk kata, bab ini menguji struktur kalimat. Sebab setiap tanda baca sebenarnya menandai batas: batas antarklausa, batas antarunsur perincian, batas antara pengantar dan isinya. Karena itu, cara tercepat menjawab soal tanda baca bukan mengingat aturannya satu per satu, melainkan mengenali dulu bagian mana yang induk kalimat, mana anak kalimat, dan mana perincian.
Bagian 1: Tanda Titik
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan, di belakang angka atau huruf dalam bagan dan daftar, serta untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik, misalnya pukul 01.35.20. Titik juga dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya, misalnya 25.000 penonton.
Yang lebih sering diuji justru kapan titik tidak dipakai:
- Pada akhir judul karangan, judul tabel, dan judul bab.
- Pada kepala surat, alamat pengirim, dan tanggal surat.
- Pada bilangan yang tidak menyatakan jumlah, misalnya nomor rekening atau tahun. Jadi kita menulis "tahun 2027", bukan "tahun 2.027".
Kesalahan khas di soal biasanya berupa judul yang diberi titik, atau tahun yang diberi titik ribuan.
Bagian 2: Tanda Koma pada Perincian dan Konjungsi
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam perincian. Perhatikan bahwa koma tetap dipakai sebelum kata dan atau atau yang mengakhiri perincian:
- Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
- Telepon seluler, komputer, atau internet bukan lagi barang mewah.
Tanda koma juga dipakai sebelum konjungsi yang menyatakan pertentangan, yaitu tetapi, melainkan, dan sedangkan:
- Ia rajin berlatih, tetapi hasilnya belum stabil.
- Yang dia butuhkan bukan pujian, melainkan bimbingan.
- Kakak memilih jurusan sains, sedangkan adiknya memilih jurusan bahasa.
Pasangan bukan dengan melainkan dan pasangan tidak dengan tetapi harus dijaga utuh. Menukar melainkan menjadi tetapi pada kalimat yang diawali bukan adalah kesalahan yang sering ikut dipasang di soal, bersamaan dengan koma yang hilang.
Selain itu, koma dipakai sesudah kata seru dan kata sapaan, misalnya "Wah, hasilnya di luar dugaan" dan "Selamat pagi, Bu".
Bagian 3: Tanda Koma pada Anak Kalimat dan Keterangan
Ini bagian yang paling sering keluar. Aturannya bergantung pada urutan klausa.
Kalau anak kalimat mendahului induk kalimat, koma wajib dipakai:
- Karena hujan turun sangat deras, upacara bendera akhirnya ditunda.
- Meskipun sudah berlatih berbulan-bulan, ia tetap merasa gugup.
Kalau anak kalimat mengiringi induk kalimat, koma tidak dipakai:
- Upacara bendera akhirnya ditunda karena hujan turun sangat deras.
- Ia tetap merasa gugup meskipun sudah berlatih berbulan-bulan.
Cara mengenalinya: cari konjungsi seperti karena, ketika, jika, meskipun, dan sebelum. Klausa yang dimulai konjungsi itulah anak kalimatnya. Kalau ia berada di depan, pasang koma di ujungnya.
Tanda koma juga dipakai sesudah kata transisi yang berada di awal kalimat, misalnya jadi, oleh karena itu, namun, dan dengan demikian. Selain itu, koma mengapit keterangan tambahan atau aposisi yang menjelaskan unsur di depannya:
- Rani, ketua kelas kami, menyiapkan laporan itu sejak pekan lalu.
Satu rambu penting: koma tidak boleh memisahkan subjek dari predikatnya. Kalimat seperti "Upacara bendera, akhirnya ditunda" salah, karena komanya memutus subjek dan predikat tanpa alasan.
Bagian 4: Titik Koma dan Titik Dua
Titik koma punya dua tugas utama. Pertama, memisahkan bagian kalimat yang setara dan sejenis, misalnya "Malam makin larut; pekerjaan itu belum juga selesai". Kedua, memisahkan unsur perincian yang di dalamnya sudah mengandung koma, supaya batas antarunsur tetap terbaca:
- Rapat itu membahas laporan keuangan, kas, dan piutang; laporan kegiatan tahunan; serta rencana kerja tahun depan.
Titik dua dipakai sesudah pernyataan lengkap yang diikuti perincian:
- Kami memerlukan perlengkapan berikut: kursi, meja, dan lemari.
Dan inilah aturan yang paling sering diuji: titik dua tidak dipakai kalau perinciannya merupakan pelengkap yang langsung mengakhiri kalimat. Jadi yang benar adalah "Kami memerlukan kursi, meja, dan lemari", bukan "Kami memerlukan: kursi, meja, dan lemari". Ujinya mudah, hapus perinciannya. Kalau kalimat sebelum titik dua sudah utuh dan bisa berdiri sendiri, titik dua boleh dipakai. Kalau kalimatnya jadi menggantung karena kehilangan objek, titik dua harus dihapus.
Titik dua juga dipakai sesudah kata yang memerlukan pemerian, misalnya pada penulisan naskah drama dan pada keterangan seperti "Ketua: Rania Salsabila".
Bagian 5: Tanda Hubung
Tanda hubung menandai bagian kata yang terpenggal di ujung baris dan menyambung unsur kata ulang, misalnya anak-anak dan berulang-ulang. Selain itu, ia dipakai untuk merangkai:
- se- dengan kata berikutnya yang diawali huruf kapital: se-Indonesia, se-Jawa Barat
- ke- dengan angka: peringkat ke-3, juara ke-2
- angka dengan akhiran -an: tahun 1980-an
- kata dengan singkatan berhuruf kapital atau unsur bahasa asing: di-PHK, mem-back-up
Kesalahan yang sering muncul adalah menulis se Indonesia terpisah, ke3 dirapatkan, atau 1980an tanpa tanda hubung. Ketiganya salah. Ingat polanya: kalau yang disambungkan berbeda jenis, yaitu imbuhan bertemu huruf kapital, angka, atau unsur asing, gunakan tanda hubung.
Bagian 6: Tanda Petik, Tanda Kurung, dan Tanda Kurung Siku
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan atau naskah, misalnya "Merdeka atau mati!" seru mereka. Ia juga dipakai untuk mengapit judul syair, artikel, atau bab yang dipakai di dalam kalimat, serta untuk mengapit istilah yang kurang dikenal atau kata yang dipakai dengan makna khusus. Yang terakhir ini sering diuji lewat kata bermakna kiasan, misalnya Anak itu dijuluki "kutu buku" oleh teman sekelasnya.
Bedanya dengan huruf miring sudah dibahas tuntas di bab Kapitalisasi dan Huruf Miring, jadi di sini cukup diingat ringkasnya saja: judul terbitan utuh dimiringkan, judul bagian dari terbitan diapit tanda petik.
Tanda petik tunggal punya dua tugas yang sering tertukar. Pertama, mengapit petikan yang berada di dalam petikan lain:
- Adik bertanya, "Kakak dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
Kedua, mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan sebuah kata. Perhatikan pembagian tugasnya: kata yang dijelaskan ditulis miring, sedangkan maknanya diapit tanda petik tunggal.
- Istilah feedback pada laporan itu berarti 'umpan balik'.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat, misalnya "Ujian itu diadakan di aula (bukan di lapangan)". Ia juga mengapit huruf atau angka yang merinci sesuatu di dalam kalimat, misalnya "Tahapnya ada tiga, yaitu (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) penilaian".
Tanda kurung siku jarang muncul dalam tulisan sehari-hari, tetapi sesekali diuji. Tugasnya dua. Pertama, mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau naskah yang ditulis orang lain, misalnya "Berkas itu diserahkan kepada pani[t]ia lomba". Kedua, mengapit keterangan yang sudah berada di dalam tanda kurung, supaya kurungnya tidak bertumpuk.
Dalam petikan langsung, tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan dari bagian lain kalimat, misalnya Kata Ibu, "Belajarlah lebih awal supaya tidak terburu-buru".
Bagian 7: Kesalahan Umum dan Ringkasan
Lima kesalahan yang paling sering dipasang di soal:
- Titik dua dipakai padahal perinciannya pelengkap yang mengakhiri kalimat.
- Koma dipakai pada anak kalimat yang mengiringi induk, atau justru dihilangkan saat anak kalimat berada di depan.
- Koma memisahkan subjek dari predikat.
- Koma sebelum tetapi, melainkan, atau sedangkan dihilangkan.
- Tanda hubung tidak dipakai pada bentuk seperti se-Indonesia, ke-3, dan 1980-an.
Langkah cepat di ruang ujian: tandai dulu subjek dan predikat induk kalimatnya, lalu cari konjungsi untuk menemukan anak kalimat, lalu lihat apakah ada perincian. Setelah tiga bagian itu terpetakan, tanda bacanya tinggal mengikuti. Lanjut ke Kartu Ingatan dan Latihan Kilat untuk mengunci polanya.