Aturan Imbuhan
Halo, Pejuang PTN. Selamat datang di bab Aturan Imbuhan. Bab ini kelihatannya sepele, padahal di soal Pemahaman Bacaan dan Menulis, imbuhan termasuk jebakan yang paling sering bikin skor bocor. Soalnya hampir tidak pernah bertanya "apa itu prefiks". Yang muncul justru satu kalimat panjang, lalu kamu diminta memutuskan bentuk mana yang baku. Jadi target kita di sini bukan menghafal daftar, melainkan bisa mengambil keputusan cepat begitu melihat sebuah kata di dalam kalimat.
Bagian 1: Peta Singkat Imbuhan Bahasa Indonesia
Imbuhan (afiks) adalah bentuk terikat yang ditempelkan pada kata dasar dan mengubah makna atau kelas katanya. Ada empat jenis yang perlu kamu kenali:
- Awalan (prefiks): meN-, ber-, di-, ter-, peN-, per-, se-, ke-
- Akhiran (sufiks): -kan, -i, -an
- Sisipan (infiks): -el-, -em-, -er-, seperti pada gelembung, gemetar, dan gerigi
- Gabungan (konfiks): ke-an, peN-an, per-an, ber-an
Huruf N besar pada meN- dan peN- bukan salah ketik. N di situ adalah bunyi sengau yang wujudnya berubah-ubah mengikuti huruf awal kata dasar: bisa menjadi m, n, ny, ng, atau bahkan tidak muncul sama sekali. Perubahan inilah sumber sebagian besar soal imbuhan di UTBK.
Satu hal yang sering dilupakan: imbuhan juga menentukan kelas kata. Tulis adalah verba dasar, penulis adalah nomina pelaku, tulisan adalah nomina hasil, penulisan adalah nomina proses. Kalau soal menanyakan kalimat yang tidak efektif atau tidak berpredikat, sering kali penyebabnya adalah verba yang tanpa sadar diubah menjadi nomina.
Bagian 2: Aturan KPST, Jantung Bab Ini
Aturan intinya cuma satu kalimat: kata dasar yang diawali huruf k, p, s, atau t akan luluh ketika mendapat awalan meN- atau peN-, asalkan huruf sesudahnya adalah vokal.
- kirim menjadi mengirim dan pengirim
- pukul menjadi memukul dan pemukul
- sapu menjadi menyapu dan penyapu
- tulis menjadi menulis dan penulis
Perhatikan pasangannya. Huruf k berubah menjadi ng, p menjadi m, s menjadi ny, dan t menjadi n. Cara mengingatnya: urutan k, p, s, t berpasangan dengan ng, m, ny, n.
Coba lihat dalam kalimat. "Panitia menyeleksi berkas peserta" berasal dari seleksi, bukan menseleksi. "Pemerintah daerah menyosialisasikan aturan itu" berasal dari sosialisasi, bukan mensosialisasikan. "Warga diminta menaati jadwal" berasal dari taat, bukan mentaati. Tiga kata ini termasuk yang paling rajin muncul di soal, jadi kunci saja sekarang.
Yang sering bikin ragu adalah kata-kata yang terdengar asing di telinga justru karena kita terbiasa mendengar bentuk yang tidak baku: percaya menjadi memercayai, pesona menjadi memesona, pengaruh menjadi memengaruhi. Semua bentuk itu terdaftar di KBBI dan semuanya patuh pada aturan yang sama. Telinga bukan alat ukur yang sah di sini.
Bagian 3: Kapan K, P, S, T Justru Tidak Luluh
Aturan tadi berhenti bekerja kalau huruf sesudah k, p, s, atau t bukan vokal, melainkan konsonan lain. Ini biasanya terjadi pada kata serapan yang diawali gugus konsonan.
- kritik menjadi mengkritik, bukan mengritik
- proses menjadi memproses, bukan memroses
- stabil menjadi menstabilkan, bukan menyetabilkan
- transfer menjadi mentransfer, bukan menransfer
- produksi menjadi memproduksi, bukan memroduksi
Ada satu kelompok lain yang tampak melanggar padahal tidak, yaitu kata yang sudah lebih dulu mendapat awalan per-. Contohnya perbarui menjadi memperbarui, pertimbangkan menjadi mempertimbangkan, dan perhatikan menjadi memperhatikan. Huruf p di situ milik awalan per-, bukan huruf awal kata dasar, jadi ia tidak ikut luluh.
Maka sebelum memutuskan, tanyakan dua hal berurutan. Pertama, huruf sesudah k, p, s, atau t itu vokal atau konsonan. Kedua, huruf p yang kamu lihat itu milik kata dasar atau milik awalan per-. Dua pertanyaan ini menyelesaikan mayoritas soal peluluhan.
Bagian 4: Wujud meN- dan peN- yang Berubah-ubah
Bunyi sengau pada meN- punya enam wujud. Ini peta yang perlu kamu kunci:
- me- di depan l, m, n, r, w, y, ng, dan ny: melatih, memasak, merawat, menyanyi
- mem- di depan b, f, v, dan p yang luluh: membaca, memfitnah, memveto, memukul
- men- di depan c, d, j, sy, dan t yang luluh: mencuci, mendaki, menjahit, menulis
- meng- di depan vokal, g, h, kh, dan k yang luluh: mengambil, menggali, menghitung, mengirim
- meny- di depan s yang luluh: menyapu, menyusun
- menge- di depan kata dasar bersuku satu: mengebom, mengecat, mengelas, mengerem, mengetik
Pola yang persis sama berlaku untuk peN-, sehingga muncul pembaca, pendaki, penggali, penyapu, dan pengebom.
Kata bersuku satu (ekasuku) adalah jebakan favorit penyusun soal. Bentuk bakunya mengecat, bukan mencat atau mengcat. Bentuk bakunya mengebom, bukan membom. Begitu kamu melihat kata dasar yang cuma satu suku, langsung pasang menge-.
Bagian 5: Beda -kan dan -i yang Sering Tertukar
Dua akhiran ini sama-sama membentuk verba transitif, tetapi menuntut objek yang berbeda. Kunci praktisnya begini:
- -kan cenderung memindahkan sesuatu atau melakukan sesuatu untuk pihak lain. Objeknya adalah barang yang dipindahkan.
- -i cenderung menandai sasaran, tempat, atau pihak yang dikenai perbuatan, sering dengan kesan berulang. Objeknya adalah sasaran atau tempatnya.
Bandingkan pasangan berikut:
- Petani menaburkan pupuk ke sawah. Objeknya pupuk.
- Petani menaburi sawah dengan pupuk. Objeknya sawah.
- Ketua menugaskan survei kepada Rani. Objeknya survei.
- Ketua menugasi Rani dengan survei. Objeknya Rani.
- Ia melempari anjing itu dengan batu, sedangkan ia melemparkan batu ke arah anjing itu.
Kesalahan khas yang dipasang di soal adalah objek dan akhiran yang tertukar, misalnya "menaburi pupuk ke sawah". Begitu kamu melihat pola meN- ditambah -i, lalu objeknya berupa barang, lalu ada kata ke di belakangnya, hampir pasti itu bagian yang harus diperbaiki.
Bagian 6: ber-, ter-, dan Jebakan di-
Awalan ber- berubah menjadi be- kalau kata dasarnya diawali huruf r, atau kalau suku pertamanya berakhir bunyi er. Contohnya ber- ditambah kerja menjadi bekerja, ber- ditambah ternak menjadi beternak, dan ber- ditambah racun menjadi beracun. Satu bentuk khusus wajib dihafal karena tidak mengikuti pola mana pun: ber- ditambah ajar menjadi belajar.
Awalan ter- menyusut menjadi te- di depan kata yang diawali huruf r, misalnya ter- ditambah rasa menjadi terasa.
Bagian yang paling sering ditanyakan adalah beda di- sebagai awalan dan di sebagai preposisi:
- di- menempel pada kata kerja dan ditulis serangkai: ditulis, disimpan, dibaca.
- di menyatakan tempat dan ditulis terpisah: di rumah, di lemari arsip, di dalam, di antara.
Uji cepatnya cuma satu pertanyaan. Kalau bagian itu bisa dijawab dengan "di mana", berarti preposisi, tulis terpisah. Kalau tidak bisa dan kata itu jelas menyatakan perbuatan, berarti awalan, tulis serangkai. Aturan yang sama berlaku untuk ke dan dari, dengan pengecualian bentuk yang sudah dianggap satu kata seperti kepada dan daripada.
Satu tambahan yang sering muncul: gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai. Karena itu bentuk bakunya menandatangani dan ditandatangani, bukan menanda tangani atau ditanda tangani.
Bagian 7: Kesalahan Umum dan Ringkasan
Lima kesalahan yang paling sering dipasang di soal UTBK:
- Huruf k, p, s, t tidak diluluhkan padahal diikuti vokal, misalnya mensosialisasikan, mentaati, dan mensukseskan. Bentuk bakunya menyosialisasikan, menaati, dan menyukseskan.
- Huruf k, p, s, t diluluhkan padahal diikuti konsonan, misalnya memroses, mengritik, dan menransfer.
- Kata bersuku satu tidak memakai menge-, misalnya mencat dan mengbom.
- Akhiran -kan dan -i tertukar bersama objeknya.
- Awalan di- ditulis terpisah, atau preposisi di justru ditulis serangkai.
Ringkasnya, tiga pertanyaan ini cukup untuk menyelesaikan hampir semua soal imbuhan. Apa huruf awal kata dasarnya. Apa huruf sesudahnya, vokal atau konsonan. Dan siapa pemilik imbuhan yang kamu lihat, kata dasarnya atau awalan lain yang sudah lebih dulu menempel. Latih tiga pertanyaan itu sampai otomatis, lalu lanjut ke Kartu Ingatan dan Latihan Kilat.