Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Fitur
Pernah sadar nggak, kenapa semangkuk bakso di kantin yang dulu harganya cuma lima ribu rupiah, sekarang malah jadi lima belas ribu padahal porsinya sama persis?
Ini bukan cuma pedagang yang mau untung. Kalau harga daging, beras, dan bensin naik serentak berbulan-bulan, itu namanya inflasi. Syarat utamanya: harga naik, terjadi secara umum, dan berlangsung terus-menerus.
Tapi awas jebakan! Harga tiket pesawat yang melonjak tajam cuma saat liburan itu bukan inflasi. Kenapa? Karena cuma satu barang dan cuma sesaat, nggak memengaruhi barang lain secara umum.
Tingkat keparahannya bisa diukur. Contoh, Negara Astina mencatat harga pokok naik empat puluh lima persen setahun. Kalau kita cek aturannya, empat puluh lima persen masuk rentang inflasi berat!
Terus, kenapa bisa terjadi? Penyebab pertama dari sisi pembeli. Bayangkan warga cairkan bantuan tunai massal dan memborong beras sampai stok habis. Pedagang langsung menaikkan harga karena pembeli berebut. Ini disebut demand-pull inflation atau tarikan permintaan.
Penyebab kedua dari sisi produsen. Misalnya tarif listrik naik dua puluh persen, pabrik sabun jadi tekor. Pabrik terpaksa menaikkan harga jual sabun agar tidak rugi. Ini namanya cost-push inflation atau dorongan biaya.
Penyebab ketiga dari sisi bank sentral, yaitu teori kuantitas uang. Kalau negara mencetak uang dua kali lipat lebih banyak, tapi jumlah barang di pasar tetap, nilai uang bakal anjlok dan harga barang melambung.
Jadi, bakso lima belas ribu tadi adalah bukti nyata inflasi. Entah karena daging sapinya makin mahal akibat cost-push, atau uang saku semua siswa yang naik sehingga terjadi demand-pull! Ingat ya, nilai uangmu yang turun.